by Arifsyah. M. Nasution, S.Si.
Setelah penat seharian menjalani berbagai rutinitas lapangan yang tidak terduga, seperti biasa ke-senggang-an waktu dan kesendirian di ruang kerja, saya manfaatkan untuk online... Ya ONLINE!. Meninjau halaman Facebook, buka akun e-Mail(s), ataupun tiiiit (maaf: disensor --mau tau aje!)
Mengantar
Nah! Malam ini (28/04) setelah Maghrib rasa ingin tahu saya ter-arah pada sebuah istilah yang semakin tidak asing, yaitu White Paper, atau di-Indonesia-kan sebagai Buku Putih. Jujur selama ini saya hanya mencoba mengira-ngira tanpa berminat memahami lebih dalam apa maksud dari White Paper itu.
Sebelum melakukan 'riset kecil' malam ini saya menganggap bahwa White Paper semacam tulisan apa-adanya dari seseorang atau pihak yang tersangkut atau terhubung langsung dengan perihal tertentu. Singkatnya penjelasan dari orang pertama, orang yang mengalami langsung, pihak yang paling berkepentingan dan berkesangkut-pautan.
Pertama kali saya begitu familiar dan mulai ngeh dengan istilah Buku Putih, saat diterbitkannya tulisan dalam bentuk buku mantan Presiden RI B.J. Habibie berjudul "Detik-Detik yang Menentukan (DDyM)" pada (September) 2006. Terberkatilah Internet, karena buku tersebut juga sejak awal 2008(?) telah tersedia online dan dapat diunduh (salah satunya: klik disini!).
Saat itu (2006-2007) banyak yang menilai bahwa buku itu sebagai 'Buku Putih'-nya Habibie. Karena apa? Karena dari judul sampai isi memang mengulas seputar apa-apa yang dialami dan diketahui langsung oleh beliau. Meski tetap terdapat kutipan dari beberapa sumber, namun konteks dari 'DDyM', memang menjadi bagian penting dari perjalanan Habibie sebagai pribadi yang telah malang-melintang di masa pemerintahan orde baru dan fase awal reformasi negeri kita yang tercinta ini, Indonesia.
Guna memastikan kira-kiraan saya itu, pasca tik "white paper" dan enter di mesin pencari, tautan yang saya 'dalami' adalah Wikipedia. Saya kutip sebuah penjelasan sebagai berikut: [A white paper is an authoritative report or guide that helps solve a problem. White papers are used to educate readers and help people make decisions, and are often requested and used in politics, policy, business, and technical fields. In commercial use, the term has also come to refer to documents used by businesses as a marketing or sales tool. Policy makers frequently request white papers from universities or academic personnel to inform policy developments with expert opinions or relevant research.]
Saya words highlighting beberapa-nya: authoritative; report; solve; educate; help; decision; commercial-use, sales-tool; dan expert-opinions.
Saya berkesimpulan mandiri bahwa kira-kiraan saya sebelum malam ini tidak beda-beda amat! Lantas bagaimana terms "White-Paper" di dunia ke-IT-an ?! Sepertinya apa yang tertulis di Wikipedia sudah secara mendasar memberikan sejumlah arahan penjelasan lebih lanjut terkait tujuan dari 'tik-an' saya kali ini.
Mengulas
Ya! Hampir semua pelaku IT, terutama perusahaan-perusahaan penguasa pangsa IT, baik didunia nyata dan maya, sudah pernah 'melahirkan' White Paper dari berbagai produk ataupun jasa yang ditawarkan. White Paper itu dapat berupa apa saja dan kapan saja. Bisa untuk keseluruhan produk dengan ulasan yang komprehensif atau sekadar ulasan singkat. Juga ada yang tematik untuk masing-masing produk atau konsern tertentu.
Sebuah pertanyaan yang mungkin timbul dibenak kita namun belum tuntas terulas pada bagian "mengantar" diatas adalah mengapa "White Paper" (perlu) dilahirkan? Atau bila mau menekankan pada kata-kunci authoritative, maka siapa yang paling berhak melahirkannya? Stop! Agar lebih ringan, kita cukupkan untuk dua pertanyaan itu saja, P1 dan P2! Dan langsung kita fokuskan dimensi fikir kita pada White Paper yang berkenaan dengan ke-IT-an.
Okeh, pertama kita coba ulas P1. Menurut saya, IT White Paper perlu dilahirkan karena akses kepada "information" dan "technology" adalah terkait pada persoalan hak (rights) dan kewajiban (obligations). Hak dapat berupa: hak dasar, hak intelektual, hak milik, hak publik, hak konsumen, hak produsen, hak penyalur dan seterusnya. Kewajiban juga demikan seterusnya. Pelaksanaan hak dan kewajiban juga akan berdasar dan mendasar pada beberapa nilai dan juga terkait pada pembatasan atau bahkan keterbatasan.
Praktisnya dapat begini, konsumen harus mendapatkan pengetahuan dan penjelasan yang cukup dari pelaku (baca: perusahaan) IT terhadap jasa dan produk yang: (1) mereka beli (bagi konsumen) dan (2) mereka jual/tawarkan (bagi produsen). Sehingga "White Paper" bisa saja dapat berisi penjelasan tentang adanya failure, bugs, miss-configuration, updates, products termination, products recalling. Berupa: rewards dan discount. Bisa juga: acknowledgment (penghargaan) dan apology (permintaan maaf). Bahkan juga berisi pengumuman dan justifikasi (adanya awal dan akhir), terkait perseteruan atau perdamaian lintas pelaku IT, dimana mereka (pelaku IT) ingin 'melibatkan' end-users, minimal berharap 'biarlah publik yang menilai!'. Begitu kira-kiranya motif dan modusnya!
Next! P2. Ini yang berat untuk saya jawab. Namun tidak salahnya mencoba bukan?
Biasanya memang yang nerbitin White Paper adalah perusahaan IT terkait kualitas, roadmap dari produk atau jasa yang ditawar-jualkannya. Setiap perusahaan dari kelas apapun, besar, menengah, kecil pasti ada bagian atau orang yang ngurusin masalah komunikasi dan pemasaran produk atau jasa. Bisa karyawan dari perusahaan IT itu sendiri ataupun menggunakan jasa konsultan atau tenaga outsourcing. Atas permintaan dan titah pimpinan perusahan IT, maka si karyawan atau si konsultan membuat sebuah rumusan naratif dan juga skematis terkait konten White Paper yang diinginkan, plus foto-foto terpilih. Bila hasil rumusan itu objektif atau bisa juga sesuai dan memenuhi selera dan keingingan pimpinan perusahaan IT, maka White Paper tersebut difinalisasi dan dipublikasikan.
Maaf terpaksa nambahin 2 (dua) pertanyaan lagi. (1-P3) Bagaimana jika White Paper itu dibuat oleh mantan petinggi atau karyawan perusahaan IT yang isinya sangat menyudutkan atau bisa menghancurkan kredibilitas bahkan nama baik dari perusaan itu? (2-P4) Dapatkah ini disebut juga sebagai White Paper atau malah menjelma menjadi Black Paper? Menurut saya perlu ada sejumlah penelitian dan penelusuran lebih lanjut
Selanjutnya, dari hasil words highlighting, White Paper juga berasosiasi pada sebuah report (laporan), artinya ia lazimnya tertulis, sehingga tidak mudah menguap dan menghilang. Juga solve (mengurai atau mencoba menyelesaikan sebuah masalah), sehingga mengurangi adanya kebimbangan dan ketidakpastian. Juga educate (mendidik) tanpa menjadi terlalu menggurui atau bahkan menyalahkan lain pihak. Juga help (membantu), memudahkan pihak lain untuk mengetahui, memaklumi atau bahkan memberikan simpati yang tulus. Juga decision (keputusan), sehingga kita semua mampu memilih pada pilihan yang paling realistis atau bahkan dapat memenangkan semua pihak (win-win solutions). Juga commercial-use (penggunaan komersial), berguna untuk mengantarkan ide dan produk IT lebih dekat dan diminati pasar (marketable). Juga sales-tools (perangkat penjualan), menjadi andalan untuk meningkatkan grafik dan pencapaian target pemasaran. Juga expert-opinions (opini pakar), sehingga akan lebih objektif tanpa sama sekali mengesampingkan opini pengguna (users-opinions). Juga asosiasi lain sebagainya.
So! IT White Paper sebaiknya memuat ulasan yang lebih multi-perspektif, mempertimbangkan serta menghargai hak dan kewajiban semua stakeholders IT. Lebih terbuka atau sederhananya jujur apa adanya tanpa juga harus takut akan kemunduran dan rasa malu yang berkepanjangan. Malah IT White Paper yang dimotifkan sebagai semangat keterbukaan, kebersahajaan dan kejujuran dalam berbisnis akan selalu membangun keikhlasan dan kecintaan publik.
IT White Paper yang tidak didominasi oleh 'pembenaran' sepihak akan lebih menunjukkan dedikasi dan rasa tanggungjawab kepada pembangkitan daya inovasi dan kreasi yang lebih baik lagi dimasa depan..
Menyudahi
White Paper bisa dimaksudkan menjadi apa saja, termasuk membangun mental kita untuk lebih terbuka dan progresif (bergerak maju). Jadi, menurut saya, IT White Paper juga harus dibangun atas semangat kejujuran, tidak saja selalu tentang 'pembenaran' dan 'kemenangan' yang dipaksakan! Sepakat?
No comments:
Post a Comment